PADA kisah sebelumnya diceritakan, Ny. Tatat hanya ditengok suaminya dua tahun sekali. Setiap kali ditengok setiap kali itu pula ia mengandung lalu melahirkan anak sehingga ada orang yang menggunjingkannya. Lalu apa yang terjadi? Inilah akhir kisahnya yang ditulis H. Undang Sunaryo.
PADA kisah yang lalu dituturkan, meski setengah hati Ny. Tatat menikah dengan Ipin. Pernikahan mereka berlangsung sangat sederhana. Hanya beberapa orang tetangga yang mereka undang. Laki-laki yang masih ada ikatan saudara dengannya itu meninggalkannya untuk melanjutkan tugasnya di Malayasia. Sang suami hanya datang dua tahun sekali. Bagaimana kisah rumah tangga Ny. Tatat selanjutnya? Ikuti tulisan H. Undang Sunaryo ini.
LEBIH dari 23 tahun Ny. Tatat (bukan nama sebenarnya) berumah tangga, namun warga Jatinangor, Kab. Sumedang ini selalu ditinggal Ipin (juga bukan nama asli), suaminya, yang bekerja di salah satu perusahaan pelayaran Malaysia. Dua tahun sekali Ipin pulang hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis saja. Dan sungguh tragis saat menjalani pensiun, Ipin tewas tenggelam di perairan Colombo. H. Undang Sunaryo mengisahkannya untuk Anda.
KANG Eman berupaya semaksimal mungkin mengumpulkan uang untuk persiapan pernikahan kami. Uang hasil kerja pun disisihkan meski sangat kecil. Tapi kulihat ia begitu gigih dan bersemangat untuk mengumpulkan uang.
AKU heran dengan ucapan, padahal biasanya tidak begitu. Aku menyadari kalau pergaulan dengan sesama temannya banyak sekali pengaruh pada dirinya. Apalagi aku tahu, kalau teman-teman seringkali mengajak bermain bilIar dan menonton acara musik kesukaannya. Aku menjadi khawatir dia terbawa arus yang tidak baik dan berpengaruh sekali dalam dirinya.
AKU semakin bangga pada Kang Eman, karena sangat jujur dan terbuka kepadaku menyangkut apa saja yang dialaminya. Begitu pula di tempat kerjanya. Dia pun berterus terang berasal dari keluarga yang sederhana dan bukan orang yang terpandang.
WANITA mana yang tidak akan berbinar wajahnya ketika hari pernikahan semakin dekat. Wanita mana pula yang tidak akan hancur hatinya ketika tahu kalau suaminya ternyata buronan polisi. Ny. Fitriani (24) tidak mengira sedikit pun akan mengalami nasib sepahit empedu ini. Padahal ia mengenal Eman, suaminya, sebagai sosok lelaki yang bertanggung jawab, jujur, dan sangat sopan kepada siapa pun. Namun ternyata semua itu kepalsuan belaka. Ikuti kisahnya yang ditulis Kuswari berikut.
SURYATI (20, bukan nama sebenarnya) mengaku sering dituding teman-temannya sebagai anak pelacur. Pasalnya sejak lahir hingga menjelang dewasa, Marwah ibunya hidup sendirian di Jakarta. Padahal ibunya yang juga warga sebuah desa di Kab. Bandung Barat ini, bersuamikan warga negara asing, yang enggan diketahui orang banyak. Bagaimana kisah lengkapnya? H. Undang Sunaryo mengisahkannya.
SURYATI (20, bukan nama sebenarnya) mengaku sering dituding teman-temannya sebagai anak pelacur. Pasalnya sejak lahir hingga menjelang dewasa, Marwah ibunya hidup sendirian di Jakarta. Padahal ibunya yang juga warga sebuah desa di Kab. Bandung Barat ini, bersuamikan warga negara asing, yang enggan diketahui orang banyak. Bagaimana kisah lengkapnya? H. Undang Sunaryo mengisahkannya.
SURYATI (20, bukan nama sebenarnya) mengaku sering dituding teman-temannya sebagai anak pelacur. Pasalnya sejak lahir hingga menjelang dewasa, Ny. Marwah ibunya hidup sendirian di Jakarta. Padahal yang sebenarnya ibunya yang juga warga sebuah desa di Kab. Bandung Barat ini, punya suami warga asing yang enggan diketahui publik. Bagaimana kisah lengkapnya? H. Undang Sunaryo mengisahkannya.
Sabtu, 04 September 2010
Di Mana Pusara Suamiku Berada? (3)
Kabar itu Mengejutkanku
PADA kisah sebelumnya diceritakan, Ny. Tatat hanya ditengok suaminya dua tahun sekali. Setiap kali ditengok setiap kali itu pula ia mengandung lalu melahirkan anak sehingga ada orang yang menggunjingkannya. Lalu apa yang terjadi? Inilah akhir kisahnya yang ditulis H. Undang Sunaryo. KAMI sudah berumah tangga lebih dari 20 tahun. Sejak menikah sampai sekarang aku hanya bertemu dengan suami dua tahun sekali. Selama berumah tangga pula sering kudengar saudaraku mengatakan agar aku tidak terlalu percaya pada suami.
"Lelaki mana yang tahan tidak bertemu istri selama dua tahun? Apalagi dia kerja di perusahaan pelayaran yang kerjanya keliling dunia. Sekuat-kuatnya iman, jika tidak beristri pasti suami senang jajan cari perempuan lain," begitu kata teman-temanku.
"Ya aku pasrah. Mau kawin lagi, mau doyan ngecer sama perempuan nakal terserah dia. Tugas dan kewajibanku mengurus ketiga anak yang selama ini sedang menuntut ilmu. Demi Tuhan aku tak menaruh curiga apa-apa. Semuanya aku pasrahkan kepada Yang Mahakuasa," jawabku.
Alhamdulillah si sulung sudah lulus kuliah dan diterima bekerja di salah satu perusahaan otomotif di Jakarta. Mungkin beberapa tahun lagi ia akan berumah tangga. Adiknya sedang kuliah mungkin dua tahun lagi lulus. Sementara si bungsu masih belajar di bangku SMA.
Ketika Kang Ipin pulang ia terlihat bahagia, karena si sulung sudah bekerja dan akan bertunangan. Kepulangannya tahun itu berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dulu hanya seminggu, sekarang ia diberi waktu cuti selama sebulan. Karena itu aku dan anak-anak sempat diajak wisata ke Bali, Lombok, dan beberapa kota wisata di Jawa.
"Papah kerja di perusahaan tinggal enam bulan lagi. Setelah itu pensiun. Alhamdulillah nanti kita akan mendapat uang pesangon yang lumayan besar. Bisa digunakan untuk modal bisnis," kata Kang Ipin.
Aku senang dan bahagia mendengarnya. Jika Kang Ipin pensiun kami bisa hidup bersama, setelah puluhan tahun berumah tangga selalu berpisah. Sebagai ungkapan rasa syukur, setelah pensiun kami bersama ketiga anak kami, ayah, mertua bahkan si bibi pembantu kami akan menunaikan ibadah haji. Tahun 2002 setelah Kang Ipin pensiun kami pun menunaikan ibadah haji.
Seminggu setelah beribadah haji, Kang Ipin menerima surat dari salah satu perusahaan pelayaran lain di Malaysa yang menawarinya menjadi seorang manajer perusahaan. Gengan gaji dan tunjangan menggiurkan plus fasilitas keluarga.
Kang Ipin meminta izin dan mengusulkan agr kami ikut bersamanya. Setelah kupikirkan, keinginannya itu kutolak. Tapi Kang Ipin bersikeras. Ia tetap pergi tanpa mempertimbangkan usulanku. Ya sudah, aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mendoakannya agar selamat dan dapat uang halal.
Alhamdulillah, selang satu bulan Kang Ipin mengirimiku uang, jauh lebih banyak dari gaji di perusahaan sebelumnya. Uang itu kutabungkan dan rencananya akan kubelikan ruko. Namun malang tak bisa dihindari. Suatu malam aku mendengar kabar buruk. Ketika tidur pulas telepon berdering. Orang di seberang sana mengabarkan suamiku meninggal akibat kecelakaan. Kapal bersama para awaknya tenggelam di perairan Colombo. Menurut kabar yang disampaikan humas perusahaan itu, sudah dua hari pencarian korban dilakukan tapi masih belum bisa ditemukan.
"Ya Allah!" aku menjerit hingga tak sadarkan diri.
Tatkala siuman di rumah sudah banyak orang. Orangtua dan saudarasaudara sudah dikabari tentang kematian Kang Ipin. Tak ada jalan lain kecuali merelakan kepergiannya. Begitu juga ketiga anakku. Meski sedih mereka rela. Sayangnya hingga kini kami tak tahu di mana pusaranya? (tamat)**